Pendidikan Dalam Pandangan Sosiologi

Berikut ini merupakan tulisan yang membahas mengenai pendidikan yang dilihat dari pandangan sosiologi.


Pendidikan Dalam Sebuah Perspektif Sosiologi
               
                Sosiologi berasal dari bahasa latin, socius dan logos. Socius berarti teman, dan logos berarti ilmu. Jadi secara harfiah sosiologi berarti ilmu yang mempelajari mengenai teman, atau dapat dikatakan juga bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai masyarakat. Pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte yang pada saat itu menyebutnya dengan istilah “Fisika Sosial”.
            Sosiologi berkembang sesuai dengan obyek seta tujuannya, hal itu juga terjadi dalam pendidikan. Dengan berkembangnya masyarakat pada dewasa ini yang sangat cepat, maka kebutuhan akan pengetahuan sangat diperlukan. Jika hanya sosiologi saja yang bergerak tanpa ada pendidikan yang saling beriringan, maka tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga diperlukannya ilmu pengetahuan yang kompleks agar dapat memenuhi perkembangan masyarakat yang kompleks pula, salah satunya dengan adanya sosiologi pendidikan (Daimah & Pambudi, 2018).
            Pendidikan adalah sebuah alat dimana berfungsi untuk mengembangkan kesadaran diri sendiri serta sosial yang menjadi sebuah satuan paduan sehingga pendidikan adalah aspek yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bersosial. Pendidikan sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat yang oleh sebab itu pendidikan bersifat fungsional di kehidupan masyarakat (Rasyid, 2015).

     Beberapa ahli mengemukakan pengertian mengenai apa itu sosiologi pendidikan, diantaranya (Daimah & Pambudi, 2018):
a)      Menurut Charles A. Ellwood, sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari mengenai arti dari sebuah hubungan antara proses pendidikan dan proses sosial.
b)      Menurut FG. Robbin dan Brown, sosiologi pendidikan adalah ilmu yang menjelaskan mengenai hubungan sosial yang berpengaruh kepada individu agar mendapatkan pengalaman, juga mempelajari mengenai kelakuan sosial serta prinsip untuk mengontrolnya.
c)      S. Nasution mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sebuah ilmu yang mencoba untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan pribadi individu gara menuju kearah yang lebih baik.


Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan
            Perkembangan sosiologi pendidikan ini diawali dengan gagasan dari Lester F. Ward yang menekankan pada peran dari pendidikan sosial yang realistis dalam memimpin perencanaan pemerintahan (Daimah & Pambudi, 2018). Lalu yang melopori adanya sosiologi pendidikan adalah John Dewey. Ia mengemukakakan pendapatnya mengenai sekolah merupakan lembaga sosial dalam bukunya yang berjudul School and Society tahun 1889. Beberapa tokoh lain pun mulai bermunculan seperti A.W. Small, C. A. Ellwood, dan lain-lain yang juga mulai mempersoalkan penting bahwa pendidikan mempunyai sebuah hubungan dengan pengalaman anak didalam keluarga.
            Mata kuliah sosiologi pendidikan mulai dikuliahkan pada tahun 1910 oleh Henry Suzzalo di Universitas Columbia. Namun baru pada tahun 1917 lah diterbitkannya buku sosiologi pendidikan yang ditulis oleh Walter R. Smith yang berjudul Introduction to Educational Sociology. Lalu tahun 1916, Universitas Culumbia membuka jurusan sosiologi pendidikan dan pada tahun 1923 terbentuklah himpunan sosiologi Amerika. Mulai tahun itu banyak bermunculan buku-buku yang membahas mengenai sosiologi pendidikan. Tahun 1928 terbit sebuah jurnal yang berjudul The Journal of Educational Sociology oleh  E. George Payne. Majalah Social Education mulai diterbitkan pada tahun 1936, lalu di tahun 1940 Review Education Research dimuat pada artikel yang berhubungan dengan sosiologi pendidikan. Sementara di Indonesia sendiri, sosiologi pendidikan pertama kali diajarkan pada tahun 1967 di IKIP Negeri Yogyakarta jurusan Diktatik Kurikulum (Daimah & Pambudi, 2018).


Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
            Penerapan pengetahuan sosiologi, cara berfikir serta pengumpulan data merupakan acuan dari sosiologi pendidikan. Hal yang dipelajari dari sosiologi pendidikan adalah mengenai proses dari pendidikan sebagai interaksi sosial, sekolah, serta sebagai lembaga sosial. Sosiologi pendidikan merupakan sebuah analisis ilmiah mengenai proses serta pola sosial yang ada dalam sistem pendidikan. Ini didasarkan kepada fakta yang mengatakan sistem pendidikan adalah sebuah rangkaian tindakan sosial. Beberapa kajian mengenai sosiologi pendidikan biasanya yaitu melihat hubungan sistem pendidikan dengan proses sosial dan perubahan, analisa mengenai struktur sosial yang ada dalam pendidikan, hubungan antara kekuasaan yang ada di masyarakat dengan sistem pendidikan, dan pola stratifikasi yang ada dalam masyarakat serta kaitannya dengan pendidikan.
            Teori serta konsep dari penelitian sosiologi, tidak melihat dari perilaku manusia sebagai kegiatan manusia, tetapi mencari adanya keteraturan prilaku pada konteks kelompok tertentu. Dengan ini yang dapat menjelaskan mengenai kegiatan manusia yaitu menganggap sebuah kegiatan adalah hasil dari pengalaman manusia (Bambang & Husni, 2012).
            Aktivitas yang terjadi di masyarakat dalam pendidikan adalah sebuah proses yang dijadikan sebuah landasan oleh individu untuk dapat melakukan interaksi di masyarakat. Selain itu sosiologi pendidikan memberikan sebuah penjelasan yang sejalan dengan keadaan atau kondisi masyarakat saat ini yang akan membuat setiap individu dapat menyesuaikan diri dengan fenomena yang muncul di masyarakat (Batubara, 2004). Tentu pendidikan memberikan penjelasan mengapa fenomena tersebut dapat terjadi serta bagaimana mengatasi hal yang buruk terkait dengan fenomena ini.
            Sosiologi pendidikan menekankan pada implikasi dan akibat sosial dari pendidikan serta meliihat sebuah permasalahan pendidikan dari sudut pandang sosial budaya, politik dan ekonomi. Sosoiologi pendidikan melihat gejala pendidikan adalah sebagai bagian dari struktur sosial yang ada didalam masyarakat (Khaldun, 2008).


Model Analisis Sosiologi Pendidikan
            Sosiologi adalah sebuah ilmu yang menekankan pada sebuah penelitian. Sehingga diperlukan sebuah analisis yang menuntut adanya pengetahuan yang kuat untuk menjelaskan teori dan menganalisisnya. Dengan tidak adanya sebuah teori maka analisis sosiologi tidak terjadi dan sosiologi pendidikan hanya berupa deskripsi saja. Berikut merupakan beberapa teori yang ada dalam sosiologi pendidikan.
1)      Struktural fungsional
            Teori ini berkembang pada 1940 an dan Emile Durkheim serta Max Weber merupakan pencetus dari teori ini. Di Amerika teori ini berkembang melalui Talcot Parsons dan Robert K. Merton. Teori ini menekankan pada keteraturan dan menghindari konflik. Masyarakat adalah sebuah sistem yang diibaratkan seperti tubuh manusia yang saling terkait satu dengan yang lainnya, dan masing-masing organ memiliki fungsi peranan masing-masing (Ritzer & Goodman, 2008). Organ ini memiliki hubungan dengan organ yang lain, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan menyebabkan ketidakseimbangan.
            Salah satu hasil dari teori ini adalah stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial adalah kenyataan yang membuat posisi mengandung prestise di masyarakat, yang menempatkan orang sesuai dengan posisi dalam mayarakat. Weber mengatakan stratifikasi adalah sebuah kekuatan sosial. Pendidikan akan membuat seseorang mendapatkan status yang tinggi. Dalam dunia kerja orang yang berpendidikan tinggi belum tentu lebih terampil dibanding dengan orang yang diberi latihan. Namun pada kenyataannya yang berpendidikan tinggi lah yang menduduki kelas teratas.
            Parsons memiliki pendapat mengenai fungsi sekolah (Wulandari, 2009) yaitu sekolah sebagai sosialisasi, sekolah sebagai seleksi dan alokasi dimana sekolah memberikan motivasi prestasi agar siap dalam dunia pekerjaan, dan sekolah memberikan kesamaan kesempatan bagi seluruh siswa tan memandang siapa dan bagaimana asal-usulnya.
2)      Konflik
            Teori ini dicetuskan oleh Karl Marx dimana didasarkan pada kepemilikan alat-alat produksi sebagai unsur pemisahan kelas di masyarakat. Pada abad 19 di Eropa muncul istilah proletar (pekerja) dan borjuis (pemilik modal). Kaum borjuis akan melakukan eksploitasi kepada kaum proletar. Hal ini akan terus terjadi jika dalam diri proletar memiliki rasa menerima keadaan.
            Ketegangan antara kaum borjuis dan kaum proletar terjadi ketika kaum proletar sadar bahwa harus ada perlawanan yang dilakukan. Teori ini tercipta karena adanya permasalahan kelas antara satu kelompok dengan yang lain karena adanya perbedaan kepentingan. Permasalahan ini menimbulkan persaingan. Nantinya terdapat pemenang yang kemudian akan membentuk tatanan yang baru di masyarakat.
            Teori konflik tidak mengakui adanya kesamaan dalam masyarakat. Weber mengatakan stratifikasi adalah kekuatan sosial yang dapat berpengaruh besar. Pendidikan akan membuat seseorang mendapatkan status yang tinggi. Dalam dunia kerja orang yang berpendidikan tinggi belum tentu lebih terampil dibanding dengan orang yang diberi latihan. Namun pada kenyataannya yang berpendidikan tinggi lah yang menduduki kelas teratas. Sehingga pendidikan seperti dikuasai oleh kaum elit, dan melanggengkan posisinya untuk mendapatkan status serta kekuasaanya.
3)      Model Sosiologi Kritis
            Model ini mengacu pada teori sosiologi kritis. Berkembang di Jerman pada tahun 1920. Model ini mendorong kekuatan dari kaum lemah yang tersisihkan dalam masyarakat. Pada mikro, dilihat dari aspek pendidikan, analisis ini melihat pelajar berada pada posisi yang lemah, dibentuk dan harus tunduk pada kurikulum dan guru.
            Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan tradisional, guru mempunyai peranan sangat penting dalam interaksi dengan murid (Abdullah, 2013). Diibaratkan guru menuang air ditempat yang kosong dan tidak ada reaksi apa-apa. Murid tidak memiliki kesempatan untuk berdialog. Sistem ini akan melahirkan lulusan yang menganut budaya bisu. Cara memperbaikinya adalah dengan mengembangkan kesadaran kritis melalui dialog.
            Ivan Illich mengatakan, selama ini sekolah merupakan tempat anak-anak dipaksa untuk mempelajari segala hal yang tidak mereka suka. Belajar yang baik adalah saat murid dapat memilih sendiri pelajaran yang ia sukai. Illich menyarankan agar sistem sekolah dihapus dan diganti dengan belajar sendiri seperti membaca buku, mendengarkan radio, menonton film dan lain-lain.
4)      Model Analisis Mikro
            Di Inggris pada awal tahun 1960, berkembang  model yang bernama ‘New Sociology of Education’. Ini terjadi karena ada rasa ketidakpuasan masyarakat Inggris terhadap kebijakan pendidikan sistem sekolah. Arah perbaikannya sama dengan model sosiologi kritis. Yang membedakan adalah level analisisnya ditingkat mikro. Dimana mengkaji pelaksanaan pembelajaran di sekolah, di kelas, kurikulum dan lain-lain yang berkaitan dengan sekolah.
            Di Amerika Serikat berkembang model ini dengan didasarkan pada teori interaksionisme simbolik dan teori fenomenologi. Teori fenomenologi menganggap bahwa pengetahuan didaptkan dari alat indera dan lainnya adalah spekulasi. Sementara  eori interaksionisme simbolik memiliki karakteristik, agar dapat memiliki pemahaman yan baik akan pendidikan harus dilakukan pengkajian terhadap kegiatan seharihari di sekolah. Dalam interaksi, berlangsung proses komunikasi menggunakan simbol. Keberhasilan interaksi ditentukan dengan adanya dukungan media pembelajaran yang baik.
             
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. (2013). Sosiologi Pendidikan: Individu , Masyarakat, dan Pendidikan. Depok: RajaGrafindo Persada.
Bambang, & Husni, M. (2012). Sosiologi Pendidikan. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Batubara, M. (2004). Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Ciputat Press.
Daimah, & Pambudi, S. (2018). Pendekatan Sosiologi Dalam Kajian Pendidikan   Islam. Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 2 , 115-126.
Khaldun, I. (2008). Muqaddimah Ibn Khaldun diterjemahkan oleh Ahmadie           Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Rasyid, M. R. (2015). Pendidikan Dalam Perspektif Teori Sosiologi. Auladuna      Vol. 2 No. 20 , 274-286.
Ritzer, G., & Goodman, D. J. (2008). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Wulandari, D. (2009). Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung: Refika Aditama.

Itulah tulisan mengenai pendidikan yang dilihat dari sudut sosiologi. Semoga pembaca mendapatkan pengetahuan baru dan penulis akan selalu mengasah kemampuan menulisnya. Terima kasih.

1 Response to "Pendidikan Dalam Pandangan Sosiologi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel